CONTOH ARTIKEL PENEL.PENGEMBANGAN

MODEL GI-GI: PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS STUDENTS CENTERED LEARNING DAN SCIENTIFIC APPROACH UNTUK PEMBELAJARAN PERKULIAHAN
STRATEGI BELAJAR MENGAJAR FISIKA

Indrawati

Dosen Prodi Pendidikan Fisika PMIPA FKIP Universitas Jember
ABSTRACT

GI-GI model is a model of teaching as a result of research and development of teaching bases Students Center Learning (SCL) and Scientific`Approach in subject of Physics Teaching and Learning Strategy. The aim of this study are: to determine the validity of the model in developing students’ skill to design physics teaching and learning strategy for high school students, to determine effectivity of the model, and to describe students’ learning activities during teaching learning process. Method that used for developing the model is four-D without dissemination. Subject of this study are 28 students of physics education program who joint subject of SBM Fisika class Aint FKIP Jember University year 2014/2015. Data are collected by test, observation, and interview. The collected data are analyzed quantitatively and qualitatively. Findings of the study are the model valid and effective used for students’ competence development in designing physics instructional model for senior high school. The model can also make students become learning active and satisfy. So, the study can be concluded that model GI-GI valid, effective, and can improve learning activity. Beside that, students become satisfy.

Key word: GI-GI model, designing of teaching strategy, learning activity

ABSTRAK

Model GI-GI adalah model pembelajaran hasil penelitian dan pengembangan model pembelajaran berbasis Students Center Learning (SCL) dan Scientific`Approach untuk perkuliahan Strategi Belajar Mengajar (SBM) Fisika. Tujuan penelitian ini adalah untuk: mengukur validitas model GI-GI dalam mengembangkan keterampilan mahasiswa untuk merancang strategi pembelajaran fisika sekolah menengah (model pembelajaran), menentukan keefektifan model, dan untuk mendeskripsikan aktivitas belajar mahasiswa selama proses pembelajaran dengan model GI-GI. Metode yang digunakan untuk mengembangkan model adalah model four-D tanpa diseminasi. Subyek penelitian adalah 28 mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika kelas Aint yang menempuh matakuliah Strategi Belajar Mengajar Fisika semester gasal tahun 2014/2015. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes, observasi, dan wawancara. Data yang terkumpul dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model GI-GI valid dan efektif digunakan mengembangkan kompetensi mahasiswa dalam membuat model pembelajaran fisika untuk sekolah menengah. Dengan model GI-GI mahasiswa menjadi aktif dan puas karena temuannya. Kesimpulan penelitian ini adalah model GI-GI valid, efektif, dan meningkatkan aktivitas belajar dan kepuasan mahasiswa pada perkuliahan SBM Fisika.

Kata kunci: Model GI-GI, kompetensi merancang strategi pembelajaran, aktivitas belajar
A. PENDAHULUAN
Kemampuan guru fisika dalam menentukan dan merancang strategi pembelajaran merupakan kemampuan yang penting harus dimilikinya agar pembelajaran berlangsung efektif dan efisien. Fisika adalah ilmu yang mempelajari tentang alam dan gejalanya menurut gambaran manusia. Hal-hal yang dipelajari dalam fisika (content) menurut (Clark, 2003, Indrawati, 2010) dapat bertipe fakta, konsep, prinsip, atau prosedur, yang pada hakikatnya konten itu diperoleh melalui proses ilmiah (scientific method). Dengan demikian untuk belajar fisika tidak cukup hanya menghafal konten, tetapi perlu tahu cara (proses) konten itu ditemukan, sehingga fisika dapat dipahami dengan baik dan benar oleh pebelajar. Sehingga, melalui kegiatan proses ilmiah dapat berdampak pada pebelajar memiliki sikap ilmiah. Untuk itu guru fisika perlu memiliki kemampuan dan keterampilan dalam menentukan atau merancang strategi pembelajaran yang tepat agar pembelajaran fisika dapat dilakukan sesuai hakikatnya, yaitu proses, produk, dan nilai.
Belajar untuk menemukan/menentukan strategi pembelajaran fisika bagi mahasiswa calon guru fisika diberikan antara lain melalui matakuliah Strategi Belajar Mengajar Fisika (SBMF) pada semester III. Matakuliah ini diberi bobot 3 sks. Matakuliah ini merupakan kelompok matakuliah Proses Belajar Mengajar (MKPBM) yang pertama kali diberikan pada mahasiswa calon guru fisika atau biasa dikatakan sebagai matakuliah pembentukan konsep (concept formation) untuk materi proses belajar mengajar. Tujuan umum matakuliah ini adalah setelah selesai perkuliahan, mahasiswa memiliki kompetensi secara konseptual dalam menentukan rancangan strategi pembelajaran fisika untuk sekolah menengah. Untuk itu perlu penentuan strategi pembelajaran agar pembelajaran matakuliah SBM Fisika berlangsung efektif dan efisien.
Merujuk pada kurikulum 2013, dalam pelaksanaan proses pembelajaran hendaknya berorientasi pada karakteristik kompetensi: sikap, keterampilan, pengetahuan, dan menggunakan pendekatan saintifik, dan mengutamakan belajar penemuan (discovery leraning) dan belajar berbasis proyek (Project Base Learning). Senada dengan orientsi tersebut, pembelajaran juga diarahkan pada pembelajaran berpusat pada mahasiswa (Student Center Learning) yang mempunyai tiga paradigma, yaitu memandang: (1) pengetahuan sebagai satu hal yang belum lengkap; (2) proses belajar sebagai proses untuk merekonstruksi dan mencari pengetahuan yang akan dipelajari; serta (3) memandang proses pembelajaran bukan sebagai proses pengajaran (teaching) yang dapat dilakukan secara klasikal dan bukan merupakan suatu proses untuk menjalankan sebuah instruksi baku yang telah dirancang. Proses pembelajaran adalah proses dosen menyediakan berbagai macam strategi dan metode pembelajaran, serta dan paham akan pendekatan pembelajaran mahasiswanya untuk dapat mengembangkan potensi yang dimiliki (Sailah. dkk., 2012).
Berkaitan dengan orientasi tersebut di atas maka seharusnya matakuliah SBM Fisika sebagai salah satu matakuliah yang sifatnya baru bagi mahasiswa pada kelompok MKPBM awal, maka pembelajarannya seyogyanya diarahkan pada kompetensi-kompeteni tersebut, artinya mahasiswa dapat menemukan pengetahuan sendiri melalui rekonstruksi pengetahuan dan pengalamannya, sehingga potensinya dapat berkembang secara optimal. Model Group Investigasi (GI) dipadukan dengan model model Guided Inquiry (GI) atau disingkat dengan GI-GI (Group Investigasi-Guided Inquiry) dapat dipikirkan efektif dan efisien digunakan untuk perkuliahan SBM Fisika yang bertujuan agar mahasiswa memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menentukan strategi pembelajaran fisika untuk sekolah menengah.

Group Investigation Model (GI model)
Dalam mengimplementasikan model Group Investigation, Joyce dan Weil (2000) dalam bukunya Models of Teaching menyatakan bahwa ada enam fase, berturut-turut adalah: fase pertama, pebelajar menghadapi situasi teka-teki (direncanakan atau tidak direncanakan). Pada fase ini pebelajar harus menemukan masalah yang perlu dipecahkan melalui investigasi. Fase kedua adalah pebelajar mengeksplorasi reaksi-reaksi pada situasi yang ada. Pada fase ini kelas mendiskusikan variabel-variabel yang diperlukan untuk memecahkan dalam kegiatan investigasi. Fase ketiga adalah pebelajar merumuskan tugas penyelidikan dan mengorganisir penyelidikan (definisi masalah, aturan, tugas, dan lain-lain). Pada fase ini pebelajar membagi kelompok dan kelompok mendiskusikan dan merencanakan skop dan urutan investigasinya berdasarkan persyaratan dan diskusi kelas sebelumnya. Fase keempat adalah penyelidikan bebas dan berkelompok. Pada tahap ini pebelajar menggunakan sumber-sumber yang tersedia untuk melengkapi bagian investigasinya. Fase kelima adalah pebelajar menganalisis hasil dan proses. Pada fase ini setiap hasil (temuan) kelompok didiskusikan di kelas. Fase keenam adalah kegiatan pengulangan. Berdasarkan pada hasil pebelajar, investigasi dilanjutkan, diadaptasikan, atau diubah, dan aktivitas dimulai sekali lagi pada penyimpulan.

Guided Inquiry
Menurut the Oxford English dictionary (2005), inkuari didefinisikan sebagai “The action of seeking, esp. (now always) for truth, knowledge, or information concerning something; search, research, investigation, examination. Istilah guided-inquiry bukan berkaitan dengan proses menyakan pertanyaan, tetapi berkaitan dengan proses yang melibatkan keterampilan proses kunci (seperti berpikir kritis dan kerja tim). Khulthau.& Maniotes (2007) menyatakan bahwa tujuan utama guided inquiry adalah agar mahasiswa meningkatkan kesadarannya dalam belajar bagaimana mereka belajar. Ada enam fase dalam model guided inquiry. Fase pertama adalah membentuk konsep dan menunjukkan batasannya. Untuk itu, anggota tim berkonsultasi antara satu dengan lainnya, buku teks, dan perlu mengetahui bahan kuliah. Fase kedua adalah secara serentak kelompok melaporkan dan menyampaikan refleksinya di kelas. Kelompok menawarkan hasil tim pada kelas, dan tim yang lain mengecek hasil. Pebelajar dapat mengukur hasil nyata dan menguji belajar mereka sendiri. Fase ketiga adalah bekerja latihan terapan dan mengembangkan konsep dari suatu pola, agar cocok dengan pertanyaan-pertanyaan kunci dengan suatu cara yang unik. Pada fase ini kreativitas pebelajar diperlukan. Penggunaan kreativitas dilakukan dengan cara berinteraksi dan menjelaskan konsep-konsep ke orang lain dengan mengembangkan perilaku-perilaku pendukung. Pada fase ini, tim bertanggung jawab untuk tukar pendapat untuk memperoleh informasi baru mereka sendiri dan menggunakan berpikir konvergen; para partisipan memecahkan latihan dan memperoleh pemehaman-pemahaman baru. Fase keempat adalah proses pelaporan. Pada fase ini pelapor kelompok menyajikan hasil kerja kelompoknya dan kesimpulan-kesimpulan tim lain diuji. Fase kelima, aktivitas difokuskan pada penerapan kesimpulan saat itu pada situasi-situasi baru. Pada fase ini pebelajar bekerja pada masalah-masalah yang memerlukan berpikir tingkat tinggi dan berkaitan dengan analisis, sintesis dan integrasi antarkonsep. Fase keenam merupakan kegiatana-kegiatan asesmen. Pada fase ini tim mengevaluasi dan merefleksi kekuatan-kekuatan, kemajuan-kemajuan, memberikan pandangan tentang proses guided-inquiry mereka sendiri, refleksi mereka pada belajar dan pemahaman mereka sendiri.

Model Group Investigation dan Guided Inquiry (GI-GI Model)
Model Investigasi kelompok (Group Investigation model) adalah rumpun model sosial (The Soial Family) dan model Guided Inquiry termasuk rumpun model pembelajaran Model Pengolahan Informasi (The Information Processing Model Family). Ciri rumpun model pemrosesan informasi adalah menitikberatkan pada dorongan-dorongan internal (dari dalam diri), yaitu bahwa manusia (pebelajar) dalam memahami dunia (sebagai sumber informasi) dilakukan dengan cara menggali dan mengorganisasikan informasi sebagai data, sehingga pebelajar akan merasakan adanya masalah dan mencarikan cara pemecahannya, dan akan mengembangkan kemampuan mengungkapkannya melalui kemampuannya dalam berbahasa (Joyce & Weil, 2000; Indrawati, 2011). Model sosial memiliki karakter pada prioritas peningkatan kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang lain, untuk meningkatkan proses demokratis, dan untuk belajar dalam masyarakat secara produktif. Dengan demikian perpaduan antara dua rumpun model ini dapat digunakan sebagai alternatif untuk perkuliahan SBM Fisika yang mengacu pada kurikulum 2013 dan pembelajaran berpusat pada mahasiswa.
Dengan model GI-GI, mahasiswa dapat belajar menemukan pengetahuan bersama temannya dalam kelompok melalui pengamatan tentang hal-hal (benda atau peristiwa) dari lingkungannya. Selain itu, siswa dapat berinteraksi dan komunikasi lebih dekat dengan teman-temannya. Untuk membentuk konsep baru pada mahasiswa, model inkuari terbimbing dan model group investigasi dipikirkan dapat membantu mempermudah mahasiswa dalam menemukan rancangan strategi pembelajaran fisika untuk sekolah menengah. Sebab, dengan inkuari mahasiswa dapat menemukan konten (konsep, prinsip, atau yang lain) sendiri (kelompoknya). Dengan menemukan sendiri dipikirkan dapat membuat pemahaman mahasiswa menjadi bagus dan tahan lama (Indrawati, 2011; Sutarto & Indrawati, 2013). Oleh karena mereka akan menemukan pengetahuan atau informasi baru, maka mereka membutuhkan suatu bimbingan dari instruktur atau dosennya. Dengan demikian, instruktur atau dosen harus dapat memfasilitasi untuk memberikan bimbingan pada mahasiswa agar kesulitannya dapat teratasi. Jadi perpaduan antara model group investigasi dan inkuari terbimbing (GI-GI model) diharapkan mahasiswa dapat menemukan pengetahuan atau informasi baru dan dapat mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan proses, serta karakternya melalui investigasi di lingkungannya bersama-sama dengan kelompoknya dan diperkuat dengan bimbingan dari instruktur atau dosen.
Tujuan studi ini secara umum adalah untuk mengembangkan model pembelajaran yang efektif digunakan pada perkuliahan SBM Fisika. Secara khusus bertujuan untuk mengukur validitas model GI-GI dalam mengembangkan keterampilan mahasiswa untuk merancang strategi pembelajaran fisika sekolah menengah (model pembelajaran), menentukan keefektifan model, dan untuk mendeskripsikan aktivitas belajar mahasiswa selama proses pembelajaran dengan model GI-GI.
Keterampilan mahasiswa dalam merancang strategi pembelajaran didefinisikan sebagai kemampuan dan keterampilan mahasiswa untuk menentukan strategi pembelajaran fisika yang dilengkapi dengan alasannya dan langkah-langkah pembelajarannya untuk sekolah menengah. Strategi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah model pembelajaran fisika untuk sekolah menengah. Model yang dihasilkan di sini masih sampai pada tahap hipotetik, belum sampai pada tahap uji. Untuk menyelesaikan tugas itu, mahasiswa harus dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan: (1) Model apa yang akan dikembangkan (nama model)? (2) Apakah model itu sesuai dengan hakikat pembelajaran fisika sekolah menengah? (3) Bagaimana model itu diimplementasikan (sintakmatik)? (4) Apa saja yang diperlukan untuk mengimplementasikan model itu (sarana prasarana, media, buku-buku teks, dan instrumen-instrumen lain) (sstem pendukung)? (5) Apa peran guru dalam pembelajaran dengan model itu (pronsip reaksi)? (6) Bagaimana hubungan antar individu, kelompok, dan guru (system sosial? (7) Apa dampak instruksional dan pengiring model itu? Aktivitas belajar adalah kegiatan mahasiswa selama konsultasi dengan instruktur atau dosen dan kegiatan selama proses belajar mengajar di kelas ketika menyajikan hasil karyanya (presentasi dan diskusi).

B. METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan jenis penelitian dan pengembangan. Menurut Borg dan Gall (1983) prosedur yang ditempuh dalam pengembangan di bidang pendidikan memiliki dua tujuan utama, yaitu: (1) mengembangkan produk dan (2) menguji keefektifan produk. Fungsi pertama merupakan pengembangan sedangkan fungsi kedua merupakan validasi. Prosedur pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Thiagarajan yang terdiri atas empat tahap, yaitu tahap define (pendefinisian), tahap design (perancangan), tahap develop (pengembangan), dan tahap disseminate (penyebaran). Model ini dikenal sebagai model 4-D (four D models) (Thiagarajan, et. al., 1974). Dalam implementasinya, penelitian ini dilakukan dalam tiga kegiatan, yaitu kegiatan pendahuluan yang terdiri atas kegiatan tahap I dan II, kegiatan pengembangan prototype (tahap III), dan kegiatan uji lapangan (tahap IV).

1. Kegiatan Pendahuluan
Tahap I: Define (pendefinisian)
Pada tahap ini ditetapkan dan didefinisikan syarat-syarat yang dibutuhkan dalam pengembangan pembelajaran. Penetapan syarat-syarat yang dibutuhkan dilakukan dengan memperhatikan serta menyesuaikan kebutuhan pembelajaran SBM Fisika. Tahap define mencakup lima langkah pokok, yaitu analisis ujung depan (front-end analysis), analisis peserta didik (learner analysis), analisis konsep (concept analysis), analisis tugas (task analysis) dan perumusan tujuan pembelajaran (specifying instructional objectives).

Tahap II: Design (Perancangan)
Pada tahap perancangan bertujuan untuk merancang perangkat pembelajaran. Empat langkah yang harus dilakukan pada tahap perencanaan adalah: (1) penyusunan standar tes/tugas (criterion-test/task construction) berkaitan dengan model yang dikembangkan, (2) pemilihan media (media selection) yang sesuai dengan karakteristik materi dan tujuan pembelajaran, (3) pemilihan format (format selection), yakni mengkaji format-format model pembelajaran yang akan dikembangkan, dan (4) membuat rancangan awal (initial design) sesuai format yang dipilih.

2. Kegiatan pengembangan prototype pengembangan prototype
Tahap III: Develop (Pengembangan)
Tahap pengembangan adalah tahap untuk menghasilkan produk pengembangan yang dilakukan melalui dua langkah, yakni: (1) penilaian ahli (expert appraisal) yang diikuti dengan revisi, (2) uji coba pengembangan (developmental testing). Menurut Thiagarajan, et. al. (1974:8), “expert appraisal is a technique for obtaining suggestions for the improvement of the material. Kegiatan ini merupakan teknik untuk memvalidasi atau menilai kelayakan rancangan produk oleh ahli dalam bidangnya. Penilaian para ahli/praktisi terhadap perangkat pembelajaran mencakup: format, bahasa, ilustrasi dan isi. Berdasarkan masukan dari para ahli, materi dan rancangan pembelajaran yang telah disusun dan diresvisi untuk membuat produk lebih tepat, efektif, mudah digunakan, dan memiliki kualitas teknik yang tinggi. Uji coba pengembangan (developmental test) merupakan kegiatan uji coba rancangan produk pada sasaran subjek yang sesungguhnya. Uji coba lapangan dilakukan untuk memperoleh masukan langsung berupa respon, reaksi, komentar mahasiswa sebagai sasaran pengguna model, dan para pengamat terhadap perangkat pembelajaran yang telah disusun. Hasil uji coba digunakan untuk memperbaiki produk. Menurut Thiagarajan, dkk. (Trianto, 2010) uji coba, revisi dan uji coba kembali terus dilakukan hingga diperoleh perangkat yang konsisten, efektif, dan efisien.
Rencana pengembangan model GI-GI adalah sintakmatik, prinsip reaksi, sistem sosial, sistem pendukung, dampak instruksional dan pengiring. Sintakmatik model GI-GI adalah perpaduan dari kedua model (Group Investigasi dan Guided Inquiry), yang terdiri atas empat tahap yaitu tahap: Membangun konsep (Constructing of Concept), mengajukan/meminta bimbingan pada instruktur atau dosen (Guiding), berhipotesis (Hypothesizing), dan mengkomunikasikan dan menilai hasil (Comunicating and assessing).
Prinsip reaksi model GI-GI adalah dosen atau instruktur menyediakan waktu untuk kegiatan bimbingan tentang rencana mahasiswa dalam mengembangkan model. Target model pengembangan yang dihasilkan ini hanya sampai pada tahap hipotetik (konseptual), tidak sampai tahap uji.
Sistem sosial model GI-GI adalah mahasiswa mengerjakan tugas secara kelompok, pada saat ini mahasiswa bisa membangun kerjasama saling bertukar pendapat/ide/gagasan untuk menghasilkan model pembelajaran. Selain itu, hubungan antara mahasiswa dan dosen dan instruktur juga terbangun, sehingga dosen/instruktur dituntuk harus mampu melayani mahasiswa dengan baik sehingga mahasiswa tidak merasa takut dalam berargumen.
Sistem pendukung model GI-GI adalah untuk mengimplementasikan model ini, mahasiswa dituntut aktif mencari informasi berkaitan dengan tugas yang diberikan. Selain itu, dosen juga harus menyediakan buku kunci bisa berupa modul, buku teks, hand-out, atau yang lain yang dapat digunakan sebagai rujukan mahasiswa.
Dampak instruksional model GI-GI adalah mahasiswa dapat mengembangkan model pembelajaran fisika sekolah menengah sampai pada tahap hipotetik dan aktivitas belajarnya sesuai dengan keterampilan proses. Dampak pengiring model GI-GI adalah keterampilan berpikir tingkat tinggi dan kerja sama antarmahasiswa dikembangkan, serta kepuasan mahasiswa terjadi, karena mereka mampu menghasilkan suatu ide baru dari hasil kerjanya.
Pada kegiatan pengembangan model GI-GI ini hanya sampai pada tahap ketiga. Kegitan ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) validasi model oleh ahli, yang divalidasi unsur-unsur dalam model, yaitu: sintakmatik, prinsip reaksi, sistem pendukung, dampak instruksional dan pengiring dan perangkat model pembelajaran berupa silabus, RP, media, perangkat asesmen (tugas, tes, lembar observasi) serta rubrikya. Tim ahli yang dilibatkan adalah tiga pakar SBM fisika/sains. Instrumen dapat digunakan jika penilai memberikan penilaian cukup valid (CV) hingga valid (V). Apabila hasil penilaian dikatakan kurang valid (KV), maka instrumen direvisi atau dihapus (2) Revisi model berdasarkan masukan dari para pakar pada saat validasi (3) Uji coba terbatas dalam pembelajaran di kelas, sesuai situasi nyata yang akan dihadapi. (4) Selain dari pakar revisi model juga dilakukan berdasarkan hasil uji coba (5) Implementasi model pada wilayah yang lebih luas. Selama proses implementasi tersebut, diuji efektivitas model dan perangkat model yang dikembangkan. Pengujian efektivitas dilakukan dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan rancangan kuasi-eksperimen one group pretest post tesr design. Cara pengujian efektivitas pembelajaran dapat dilakukan dengan cara mengukur kompetensi sebelum dan sesudah pembelajaran dengan menggunakan tes yang dikerjakan secara individu di rumah (take home exam). Apabila kompetensi mahasiswa sesudah pembelajaran lebih baik dari sebelumnya, maka model pembelajaran yang digunakan dikatakan efektif.

3. Uji lapangan
Uji lapangan pada produk pengembangan model GI-GI untuk perkuliahan SBM Fisika, diawali dengan uji perseorangan terlebih dahulu. Uji perseorangan diperuntukkan untuk pakar/ahli asesmen, SBM Fisika, dan Fisika Dasar. Selanjutnya uji lapangan terbatas merupakan kumpulan individu atau obyek penelitian pada kelas kecil (Kelas SBM Fisika) yang beranggotakan 6 mahasiswa yaitu 2 mahasiswa dengan pemahaman tingkat tinggi, 2 mahasiswa dengan tingkat sedang, dan 2 mahasiswa dengan pemahaman tingkat rendah. Kemudian, dilanjutkan uji lapangan luas merupakan kumpulan individu atau subjek penelitian pada kelas besar, yaitu pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika kelas SBM Fisika Aint semester gasal 2014-2015 sejumlah 28 orang.

C. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penilaian validasi tiga pakar untuk unsur-unsur model pembelajaran dapat dideskripsika dalam Tabel 1.

Tabel 1. Hasil validasi unsur-unsur model dari tiga pakar SBM

No
Unsur-unsur Model Penilai
Keputusan
P1 P2 P3
1 Sintakmatik CV V CV CV
2 Prinsip reaksi V CV V V
3 Sistem sosial V V CV V
4 Sistem pendukung CV CV CV CV
5 Dampak instruksional V V V V
6 Dampak pengiring CV V V V

Tabel 1 menunjukkan bahwa semua unsur model GI-GI bernilai cukup valid hingga valid. Oleh karena itu, model bisa digunakan untuk pembelajaran SBM Fisika.
Hasil penilaian validitas perangkat pembelajaran untuk pembelajaran dengan model GI-GI dari tiga pakar SBM Fisika/sains dapat ditunjukkan pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil validasi komponen perangkat pembelajaran dari tiga pakar SBM

No Komponen perangkat pembelajaran Penilai Keputusan
P1 P2 P3
1 Silabus CV CV V CV
2 Rencana pembelajaran V V CV V
3 Media CV CV CV CV
4 Asesmen
a. Tugas V V V V
b. Tes CV V V V
c. Lembar Observasi V CV CV CV

Tabel 2 menunjukkan bahwa hasil penilaian dari tiga pakar keputusannya adalah antara cukup valid hingga valid. Dengan demikian, perangakat pembelajaran dapat digunakan sebagai instrumen model pembelajaran untuk pembelajaran pada matakuliah SBM Fisika.
Untuk menentukan apakah model GI-GI efektif digunakan untuk pembelajaran pada matakuliah SBM Fisika digunakan dengan pembelajaran SBM Fisika, dapat digunakan rumus normalized gain (NG) (Meltzer, 2002). Jika peningkatannya pada kategori cukup hingga tinggi, maka dapat dikatakan model ini efektif. Dari hasil analisis data dapat ditunjukkan peningkatan kompetensi mahasiswa (NG) dalam mengembangkan strategi pembelajaran (model pembelajaran) seperti pada Tabel 3.

Tabel 3. Peningkatan kompetensi mahasiswa dalam mengembangkan model pembelajaran fisika untuk sekolah menengah

No
Kompetensi mahasiswa mengembangkan NG
Rerata NG
Kelompok
1 2 3 4 5 6 7
1 Nama model 1 1 0.94 0.94 1 0.96 0.86 0.96
2 Sintakmatik 0.8 0.92 0,93 1 0.88 1 0.83 0.9
3 Prinsip reaksi 1 1 1 0.83 1 0.9 1 0.96
4 Sistem sosial 0.83 0.92 0.88 0.86 1 0.92 0.88 0.89
5 Sistem pendukung 0.8 0.76 0.75 0.75 1 0.79 0.67 0.78
6 Dampak instruksional 0.86 0.87 0.88 0.89 0.83 0.79 0.71 0.83
7 Dampak pengiring 0.75 0.79 0.78 0.75 0.86 0.69 0.66 0.75
Rerata 0.86 0.89 0.87 0.86 0.94 0.86 0.8 0.87

Berdasarkan Tabel 3 dapat dinyatakan bahwa NG rata-rata untuk semua unsur dalam model pembelajaran sebesar 0.87. Savinainen dan Scott (2002) menyatakan bahwa harga NG = 0,87 ter
masuk pada kategori tinggi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa model GI-GI efektif digunakan untuk pembelajaran SBM Fisika.
Skor hasil aktivitas belajar mahasiswa dengan pembelajaran model GI-GI dalam perkuliahan dapat ditunjukkan pada Tabel 4.
Tabel 4. Aktivitas belajar mahasiswa dengan model GI-GI

Kelompok Selama konsultasi/bimbingan Selama presentasi
Bertanya Berargumen Presentation Menjawab pertanyaan
1 70 65 75 70
2 75 75 75 75
3 65 70 70 65
4 80 75 80 80
5 75 75 80 85
6 60 65 60 65
7 80 80 85 85
Rerata 72 72 75 75

Tabel 4 menunjukkan bahwa skor rata-rata aktivitas belajar dengan model GI-GI dapat dikatakan baik (mahasiswa cukup aktif). Hal ini ditunjukkan dari rerata skor selama bimbingan maupun presentasi adalah 72 hingga 75. Selain itu, dari hasil wawancara pada sebagian besar mahasiswa, rata-rata mereka puas karena bisa menemukan model pembelajaran baru. Nama-nama model yang dihasilkan antara lain: model McDe, model KRIUK, model Miss Indra, dan lain-lain.

D. SIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa bahwa model GI-GI valid digunakan untuk mengembangkan kompetensi mahasiswa dalam merancang strategi pembelajaran fisika untuk sekolah menengah. Selain itu, model GI-GI efektif digunakan untuk pembelajaran pada perkuliahan SBM Fisika dan aktivitas belajar mahasiswa termasuk pada kategori tinggi.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (2005). Oxford English Dictionary. http://dictionary.oed.com/

Gall, M. D., Gall, J. P., dan Borg W, R. (2003). Educational Research: An Introduction. Seventh Edition. Boston: Pearson Education, Inc.

Indrawati. (2011). Model-model Pembelajaran: Implementasinya dalam Pembelajaran Fisika. Modul. Perpustakaan Universitas Jember. Jember: Tidak diterbitkan.

Joyce B., Weil M., dan Calhoun E. (2000). Models of Teaching, Sixth edition. Boston: Allyn and Bacon.

Khulthau, C.& Maniotes, L.. (2007). Guided Inquiry. United States of America: Libraries Unlimited, Inc.

Meltzer, D. E. (2002). The relationship between Mathematics preparation and conceptual learning gain in Physics: A possible hidden variable in diagnostic pretest scores. American Journal Physics. 70 (2), 1259-1267.

Sailah. I. (2012). Buku Pedoman KPT 2013. Jakarta: Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan

Savinainen, A. & Scott, P. (2002). The force concept Inventory: A tool for monitoring student learning. Physics Education. 37 (1), 45-52.

Sutarto dan Indrawati. (2013). Strategi Belajar Mengajar Sains. Jember: UPT Penerbitan UNEJ.

Thiagarajan, et. al. (1974). Instructional Development for Training Teachers of Exceptional Children hlm: 8

Trianto. (2010). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Jakarta: Kencana

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *