Model Pembelajaran IDE

MAKALAH SEMINAR NASIONAL

 PROSRAM PASCA SARJANA UNESA

 

Untuk

24 JANUARI 2015

 

 

JUDUL:

MODEL PEMBELAJARAN INSTRUCTION, DOING, DAN EVALUATING (MPIDE) SEBAGAI PELAKSANAAN PENDEKATAN SAINTIFIK

PADA PERKULIAHAN MKPBM

 

 

Oleh:

 

Sutarto

195805261985031001

Email: tartoipa@gmail.com

FKIP Universitas Jember

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MAKALAH SEMINAR NASIONAL

PROGRAM PASJA SARJANA UNESA 2015

Oleh:

 

Sutarto/195805261985031001

Email: tartoipa@gmail.com

FKIP Universitas Jember

 

 

 

 

JUDUL:

MODEL PEMBELAJARAN INSTRUCTION, DOING, DAN EVALUATING (MPIDE) SEBAGAI PELAKSANAAN PENDEKATAN SAINTIFIK PADA PERKULIAHAN MKPBM

 

 

MODEL PEMBELAJARAN INSTRUCTION, DOING, DAN EVALUATING

(MPIDE)AS IMPLEMENTATION OF SCIENTIFIC APPROACH

IN MKPBM LECTURING

 

Abstract

The title of this paper is ”Model Pembelajaran Instruction, Doing, and Evaluating (MPIDE) as implementation of scientific approach in the group of MKPBM Lecturing. It is based on research findings of instructional model development through action research”. The study was conducted to 37 students who joint physics instructional media class even semester year 2013/2014.  The purpose of the study are to describe of the characteristic elements of model (syntax, social system, reaction principle, support system, and intructional and nurturant effect) the model for MKPBM lecturing. Based on the data of test the model in one of the MKPBM through action research cycle  is resulted the characteristics of the model MPIDE. The characteristic elements of instructional model are syntax, social system, reaction principle, support system, and instructional and nurturant effect.

Kata Kunci: Model Pembelajaran Instruction, Doing, and Evaluating (MPIDE), unsur model pembelajaran (sintatik, sistem sosial, prinsip reaksi, sistem pendukung, dan dampak intraksional dan dampak pengiring)

 

 

JUDUL:

MODEL PEMBELAJARAN INSTRUCTION, DOING, DAN EVALUATING (MPIDE) SEBAGAI PELAKSANAAN PENDEKATAN SAINTIFIK PADA PERKULIAHAN MKPBM

 

  1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pandangan kegiatan belajar mengajar (KBM) modern, yaitu penguasan materi untuk  siswa/mahasiswa tidak lagi ditekankan melalui pengajaran, melainkan melalui pembelajaran. KBM dalam bentuk pembelajaran penguasaan materi harus lilakukan dengan cara siswa/mahasiswa aktif menelaah secara mandiri dari sumber belajar yang tersedia/ada, baik diadakan oleh guru/dosen maupun dicari sendiri dari perpustakaan, jaringan informasi (internet), maupun sumber belajar yang lain (seperti melakukan eksperimen dan sejenisnya), dan dalam KBM ini guru/dosen sebagai fasilitator.

Pandangan KBM bentuk pembelajaran seperti uraian di atas, menuntut guru/dosen perlu memiliki: 1) kreativitas dalam menciptakan, memilih, menentukan model-model pembelajaran yang dapat difungsikan untuk mengembangkan suasana kelas agar siswa/mahasiswa “terpicu” melakukan penelaahan materi secara mandiri; dan 2) penguasan cara belajar dan penguasaan materi relative harus lebih luas, karena siswa/mahasiswa dalam belajar mandiri tidak jarang memunculkan pertanyaan kreatif yang tidak terduga, hasil dari “brainstorming” mereka ketika diskusi dengan teman atau lingkungannya.

KBM bentuk pembelajaran, adalah KBM dengan dominasi aktivitas siswa/mahasiswa tinggi dengan guru/dosen sebagai fasilitator, telah lama menjadi keharusan dalam pelaksanaan perkuliahan di perguruan tinggi (termasuk di LPTK). Dalam hal ini selain para dosen perlu melaksanakan pembelajaran layaknya pembelajaran di perguruan tinggi (pembelajaran pada orang dewasa yang bersifat andragogi), juga pembelajaran yang telah dilaksanakannya tidak jarang dijadikan “patron” oleh mahasiswa dalam melaksanakan KBM nantinya ketika mereka menjadi guru.

Tututan pembelajaran berikutnya, pelaksanaan pembelajaran tidak cukup hanya mengacu pada bentuk pembelajaran, tetapi bentuk pembelajaran tersebut perlu dipolakan sesuai dengan prosedur ilmiah (metode ilmiah). Metode ilmiah tahapnya meliputi: 1) stating the problem; 2) formulating a hypothesis; 3) designing and experiment; 4) making observation; 5) recording data from the experiment; 6) conferming the hypothesis; dan 7) forming conclusions (Trowbridge & Bybee, 1990). Tahap pola metode ilmiah ini selanjutnya dalam Kurikulum 2013 disebut sebagai ”Pendekatan Siencetific”, pendekatan ini dalam pelaksanaan pembelajarannya telah ditetapkan dengan pola tahap yang dikenal dengan 5 (lima) M, yaitu: 1) mengamati; 2) menanya; 3) mencoba; 4) menginterpretasi; dan 5) mensosialisasi (Kemendikbud, 2013).

Berdasarkan uraian di atas, model pembelajaran dengan model pengajaran memiliki perbedaan yang mendasar, namun demikian sebagai wadah pengemas tahap-tahap proses untuk melaksanakan KBM keduanya memiliki kesamaan. Model pengajaran oleh Joyce, et al. (2004) didefinisikan, model of teaching sebagai  …… a pattern or plan, which can be a curriculum or cources to select instructional materials and to guide teachers actions. Lebih lanjut, mereka menyatakan bahwa setiap model pembelajaran mengarahkan guru/dosen/instruktur dalam mendesain pembelajaran untuk membantu siswa/mahasiswa sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran tercapai.

Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar (Sutarto dan Indrawati; 2013). Unsur Model pembelajaran sama dengan model pengajaran, yaitu: 1) sintaktik; 2) sistem social; 3) prinsip reaksi; 4) sistem pendukung, dan  5) dampak instruksional dan pengiring Joyce, et al. (2004).  Dari kelima unsur tersebut, sintaktik merupakan unsur yang dapat dijadikan dasar untuk penamaan suatu model pembelajaran, karena sintaktik memuat cara, langkah, atau tahap yang perlu dilakukan untuk menerapkan model tersebut dalam suatu pembelajaran atau kegiatan pembelajaran (perkuliahan) di kelas.

Model pembelajaran Instruction, Doing, dan Evaluating (MPIDE) adalah model pembelajaran yang memuat 3 (tiga) kelompok tahap pembelajaran, yaitu kelompok tahap:  1) Instruction; 2) Doing; dan 3) Evaluating. Kelompok tahap Instruction, terdiri atas tahap: 1) pengamatan dalam bentuk penelaahan dan 2) menentukan dalam bentuk bertanya tentang apa yang ditetapkan untuk dikembangkan/diproduk. Kelompok tahap Doing, terdiri atas tahap: 3) mencoba mengkonstruk/merancang produk yang telah ditetapkan; 4) memproduk (mewujudkan) rancangan; dan 5) mengemas produk dalam perencanan KBM (melalui intepretasi ketepatan produk dalam tahap KBM yang sesungguhnya). Kelompok tahap Evaluating, terdiri atas tahap: 6) mensosialisasikan produk dalam bentuk presentasi produk dalam demonstrasi KBM dan 7) memberikan penilaian tentang produk yang di hasilkan dalam pelaksanaan demomstrasi KBM (dilakukan oleh siswa/mahasiswa yang lain). Uraian semua tahap yang ada pada “Model Pembelajaran Instruction, Doing, dan Evaluating (MPIDE)” memuat semua tahap (5M) yang ada pada “pendekatan siencetific” yang dimaksud dalam Kurikulum 2013. Dengan ini maka MPIDE dapat dikatakan sebagai salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk melaksanakan pendekatan siencetific dalam pelaksanan KBM bentuk pembelajaran atau secara spesifik dapat digunakan untuk pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan dengan Kurikulum 2013.

Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) termasuk Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) merupakan produsen dan agen tenaga pengajar untuk seluruh jenjang pendidikan (bukan pendidikan tinggi). Kurikulum program studi yang ada di LPTK, termasuk Program Studi Pendidikan Fisika (Sains), selalu memuat kelompok Matakuliah Proses Belajar Mengajar (MKPBM). MKPBM, antara lain matakuliah: media, strategi belajar mengajar, evaluasi pembelajaran, dan perencanan pembelajaran. Matakuliah yang ada pada MKPBM masing-masing merupakan matakuliah komplek (matakuliah yang penelaahannya perlu dukungan penguasan lebih dari satu jenis ilmu pengetahuan). Rata-rata MKPBM penguasaan tidak hanya secara teoretik, tetapi hingga produk serta implemnentasinya. Berkaitan dengan uraian singkat tentang MPIDE di atas, maka dalam MKPBM diasumsikan baik untuk uji-coba pengembangan MPIDE.

Hasil kajian MPIDE melalui penelitian “action research” pada matakuliah uji, yaitu perkuliahan “Pengembangan Media Pembelajaran Fisika (Sains)” dengan responden 37 mahasiswa, diperoleh: skor penguasaan konsep “Media Pembelajaran Fisika (Sains)” mahasiswa dengan perkuliahan sebelum menerapkan MPIDE rata-rata 59,78 dan setelah perkuliahan dengan MPIDE rata-rata 75,08, keduanya dengan sekor maksimum 100, dengan “Normalized gain (Ng)” rata-rata 0,71. Berdasarkan data rata-rata tersebut, dapat dikatakan bahwa MPIDE dapat meningkatkan/menimbulkan perbaikan penguasan konsep materi Media Pembelajaran Fisika mahasiswa berkategori ”tinggi”.

 

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, berkaitan dengan adanya gambaran kesesuaian tahap/fase yang ada pada MPIDE dengan pola tahap/fase yang ada pada “pendekatan siencetific” di Kurikulum 2013, serta gambaran hasil baik pada uji MPIDE pada suatu perkuliahan, maka seminar untuk penyempurnaan MPIDE perlu dilakukan. Adapun permasalahan yang diangkat dalam forum ilmiah ini adalah:

 

Bagaimanakah deskripsi unsur karakteristik (sintaktik, sistem sosial, prinsip reaksi, sistem pendukung, dan dampak instruksional dan pengiring) Model Pembelajaran Instruction, Doing, dan Evaluating (MPIDE) yang baik untuk perkuliahan “Media Pembelajaran Fisika (Sains)” atau perkuliahan MKPBM yang lain?

 

  1. MODEL PEMBELAJARAN INSTRUCTION, DOING, DAN EVALUATING (MPIDE) DALAM PERKULIAHAN MEDIA PEMBELAJARAN SAINS

2.1 Model Pembelajaran

Model pembelajaran merupakan kebalikan dari model pengajaran. Pelaksanaan KBM dengan model pengajaran, kegiatan guru lebih aktif dari pada siswa. KBM seperti ini sering disebut dengan KBM konvensional. Pelaksanaan KBM dengan model pembelajaran, kegiatan siswa  lebih aktif dari pada guru, dan dalam hal ini guru berfungsi sebagai fasilitator.

Pengertian model of teaching oleh Joyce, et al. (2004) didefinisikan sebagai  …… a pattern or plan, which can be a curriculum or cources to select instructional materials and to guide teachers actions. Berikutnya, mereka juga menyatakan bahwa model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain. Lebih lanjut, mereka menyatakan bahwa setiap model pembelajaran mengarahkan guru/dosen/instruktur dalam mendesain pembelajaran untuk membantu siswa/mahasiswa sedemikian rupa sehingga tujuan/target pembelajaran tercapai secara efektif dan efisien.

Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar (Sutarto dan Indrawati; 2013).

Joyce, et al. (2004) mengemukakan bahwa setiap model belajar mengajar selain ada tujuan dan asumsi juga harus memiliki lima unsur karakteristik model, yaitu sintaksik, sistem sosial, prinsip reaksi, sistem pendukung, dan dampak instruksional dan pengiring. Kelima unsur tersebut dijelaskan seperti berikut. Sintaktik adalah tahap-tahap kegiatan dari model. Sistem sosial adalah situasi atau suasana dan norma yang berlaku dalam model itu. Prinsip reaksi adalah pola kegiatan yang menggambarkan bagaimana seharusnya dosen melihat dan memperlakukan para mahasiswa, termasuk cara dosen memberikan respon terhadap mahasiswa. Sistem pendukung adalah segala sarana, bahan dan alat yang diperlukan untuk melaksanakan model tersebut. Dampak instruksional adalah hasil belajar yang dicapai langsung dengan cara mengarahkan para mahasiswa pada tujuan yang diharapkan, sedangkan dampak pengiring adalah hasil belajar lainnya yang dihasilkan oleh suatu proses belajar mengajar, sebagai akibat terciptanya suasana belajar yang dialami langsung oleh para mahasiswa tanpa pengarahan langsung dari dosen.

 

2.2 Pengetahuan tentang Mebelajarkan Sains

Sains adalah cabang ilmu pengetahuan yang berhakekat pada proses dan produk, yang arti sederhananya adalah kumpulan ilmu pengetahuan hasil (produk) dari proses pengkajian gejala atau fenomena alam (Sund & Trowbridge, 1973). Untuk prosesnya sendiri dalam hal ini adalah proses (process or methods), yang tahap kegiatan meliputi: 1) identifikasi dan merumuskan masalah (stating the problem); 2) merumuskan hipotesis (formulating a hypothesis); 3) merancang eksperimen (designing and experiment); 4) melakukan pengamatan (making observation); 5) mencatat data eksperimen (recording data from the experiment); 6) uji hipotesis (conferming the hypothesis); dan 7) membuat kesimpulan (forming conclusions) (Trowbridge & Bybee, 1990). Dengan ini maka pelaksanaan pembelajaran sains yang baik adalah melalui proses penelaahan sesuatu yang dipelajarinya.

Guru sains yang baik dapat dikatakan identik dengan guru sains yang terampil, yaitu guru yang memiliki pengetahuan khusus yang disebut dengan pengetahuan konten pedagogi (pedagogical content knowledge) (NRC,1996). Shulman (1991) mendefinisikan pengetahuan konten pedagogi sebagai pemahaman tentang bagaimana topik, masalah, atau isu-isu diorganisir, disajikan, dan diadaptasikan pada minat dan kemampuan siswa, dan disajikan dalam pembelajaran. Carter (1990) mendefinisikan pengetahuan konten pedagogi sebagai apa yang guru ketahui tentang bahan kajian (subject matter) dan bagaimana mereka menerapkan pengetahuan itu pada kejadian di kelas. Berdasarkan uraian ini, dapat dipahami bahwa guru sains yang baik, disamping mereka harus memiliki pengetahuan sains yang mendalam, juga harus mempunyai dasar yang kuat dalam teori belajar, yaitu memahami bagaimana belajar dapat terjadi dan difasilitasi..

Guru sains yang efektif harus memiliki sejumlah kompetensi dalam: merumuskan tujuan pembelajaran, strategi pembelajaran, asesmen, dan menetapkan bahan ajar sesuai kurikulum. Strategi pembelajaran dalam hal ini adalah yang dapat mengajak siswa dalam berbagai cara untuk belajar (NRC, 1996). Oleh Indrawati (2005) dikatakan guru sains yang terampil memiliki kemampuan diagnosa untuk memahami siswa berkaitan dengan gagasan, keyakinan, penalaran, pemahaman, bagaimana agar belajar cepat, dan apa yang biasanya menjadi tantangan mereka dalam belajar. Selanjutnya dikatakan guru sains yang baik harus memiliki pengetahuan konten pedagogi, dalam hal ini memiliki kemampuan mengemas materi sains dalam pembelajaran, dan dalam implementasinya dapat menimbulkan siswa menjadi semangat dan dapat belajar sains secara mandiri.

Uraian pengetahuan tentang membelajarkan sains di atas memperkuat alasan bahwa dalam menyiapkan atau memproduk calon guru sains perlu dibekali dengan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan materi sains maupun ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pembelajaran. Dengan ini, dalam Program Studi Pendidikan Sains telah memuat kelompok matakuliah proses belajar mengajar (MKPBM) guna membekali mahasiswa calon guru sains (fisika).

 

2.3 Matakuliah Pengembangan Media Sains 

Matakuliah yang termasuk dalam MKPBM antara lain: media pembelajaran sains; strategi belajar mengajar sains; evaluasi pembelajaran sains; perencanaan pembelajaran sains; dan sejenisnya. Setiap matakuliah bagian dari kelompok MKPBM merupakan matakuliah komplek, artinya setiap matakuliah cenderung menelaah lebih dari satu bentuk ilmu pengetahuan. Target perkuliahan masing-masing MKPBM pada umumnya tinggi, yang baik hingga mahasiswa dapat memproduk sesuatu yang dapat digunakan untuk menunjang KBM, serta sekurang-kurangnya dapat mendemostrasikan produk tersebut pada implementasikannya dalam KBM.

Matakuliah “Media Pembelajaran Sains” dalam pelaksanaannya adalah menelaah materi teori media pembelajaran, materi sains, dan keterkaitan antar keduanya yang dikemas dalam bentuk media untuk membantu pembelajaran sains. Perkuliahan “Media Pembelajaran Sains” dapat bertarget hingga pada produk media yang dapat difungsikan sebagai sumber belajar maupun membantu pelaksanaan penelaahan materi sains yang sedang dibahas.

 

  • MPIDE untuk Perkuliahan Media Pembelajaran Sains

Mahasiswa adalah orang dewasa. Ditinjau dari tingkat perkembangan intelektualnya, cara belajar mahasiswa adalah sebagai orang dewasa (andragogik), berbeda dengan cara belajar mahasiswa sebagai anak-anak (pedagogik). Pannen & Malati (Depdikbud., 1996) menyebutkan ada delapan faktor yang mempengaruhi belajar mahasiswa sebagai orang dewasa, yaitu faktor kebebasan, tanggung jawab, pengambilan keputusan, pengarahan diri sendiri, psikologis, fisik, daya ingat, dan motivasi. Kesembilan faktor tersebut mereka jelaskan sebagai berikut.

1) Faktor kebebasa. Kebebasan atau ketidakterikatan dengan orang lain adalah ciri kedewasaan seseorang. Dalam proses pembelajaran orang dewasa cenderung bersifat demokratis, mereka dapat menilai kebenaran informasi yang mereka terima dari orang lain, dan mereka menyukai apa yang mereka pelajari adalah praktis dan mengarah pada pemecahan masalah.

2) Faktor tanggung jawab. Orang dewasa dapat bertanggung jawab terhadap tindakannya dan dapat berdiri sendiri. Dalam masalah kedewasaan, sebenarnya mahasiswa dan dosennya  sama dan sejajar. Oleh karena itu, mahasiswa cenderung ingin diperlakukan sebagai seseorang yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya.

3) Faktor pengambilan keputusan. Orang dewasa mampu mengambil keputusan sendiri berdasarkan sistem nilai dan pengetahuan yang dimiliki, tanpa ditentukan atau dipengaruhi oleh orang lain. Dalam proses pembelajaran, peran dosen adalah sebagai fasilitator yang membatu mahasiswa dalam mengambil keputusan dan menyeleksi informasi yang diterima, terutama dalam hal-hal baru.

4) Faktor pengarahan diri sendiri. Mampu mengarahkan diri sendiri dan mempunyai pandangan sendiri adalah ciri lain dari kedewasaan mahasiswa. Dalam proses belajar, mahasiswa mampu berinisiatif dan berkreasi sendiri sesuai dengan pandangan yang dimilikinya. Hal ini  bukan berarti mereka tidak memerlukan orang lain. Interaksi antarmahasiswa dalam proses belajar adalah cukup tinggi.

5) Faktor psikologis. Faktor psikologis untuk orang dewasa hendaknya perlu diperhatikan. Hal yang penting adalah antara dosen dan mahasiswa dapat menumbuhkan rasa saling membutuhkan, bukan saling menggurui.

6) Faktor fisik. Mahasiswa dewasa memerlukan situasi belajar yang lebih bebas. Kondisi fisik fasilitas (ruangan dan peralatan) juga harus disertai dengan kondisi fisik mahasiswa dan dosen yang baik.

7) Faktor daya ingat.  Daya ingat seseorang mempengaruhi proses belajarnya. Daya ingat seseorang menurun jika usianya semakin lanjut. Oleh karena itu, dosen yang baik tidak akan mengharuskan mahasiswa untuk menghafal pelajaran yang banyak. Yang diperlukan mahasiswa adalah pengertian dan pemahaman terhadap materi yang dipelajarinya, bukan sekedar menghafal saja.

8) Faktor motivasi. Menurut Houle (Depdikbud., 1996) motivasi peserta pelatihan orang dewasa dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu: Pertama, mereka berorientasi pada tujuan (goal oriented), artinya mereka mementingkan penerapan dan pemanfaatan pelajaran sebagai sarana untuk mencapai tujuan tertentu. Kedua, mereka berorientasi pada kegiatan sosial (social oreiented), artinya mereka mementingkan interaksi antarsesama peserta dan proses belajar sebagai tujuan belajar. Ketiga, mereka berorientasi pada mempelajari ilmu itu sendiri (learning oriented) karena mereka senang belajar.

Berdasarkan kesembilan faktor yang mempengaruhi belajar mahasiswa sebagai orang dewasa di atas, maka melaksanakan perkuluahan atau pembelajaran pada mahasiswa: materi tidak perlu dijelaskan secara “detel” (sesuai dengan factor pengarahan diri sendiri); percayai bahwa mereka mau dan mampu melaksanakan tugas yang diberikan (sesuai dengan factor tanggung jawab dan motivasi); diberi kebebasan untuk berkreasi dalam mengerjakan sesuatu (sesuai dengan factor kebebasan); dan berani, mau, dan mampu memberikan penilaian pada diri sendiri maupun orang lain (sesuai dengan factor pengambilan keputusan). Uraian ini memberikan gambaran dalam bentuk “hipotesis” bahwa mahasiswa dapat dipercaya untuk menyelesaikan tugas, memproduk sesuatu dengan prosedur: diberikan perintah (instruction) untuk mengerjakan (doing) sesuatu dan hasilnya untuk dikompetisikan atau dinilai.

Berdasarkan semua uraian di atas, maka dalam bentuk hipotesis bahwa perkuliahan “Media pembelajaran sains” dapat dilaksanakan dengan model pembelajaran yang memuat tahap global: 1) instruction; 2) doing; dan 3) evaluating. Selanjutnya tahap global (instruction; doing; evaluating) selanjutnya dikenalkan dengan nama model pembelajaran instruction; doing; evaluating atau MPIDE.

 

  • METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Disain dan Prosedur Pengkajian

Tulisan ini berkaitan dengan hasil kajian awal pengembangan model pembelajaran, yaitu, Model Pembelajaran Instrution, Doing, dan Evaluating (MPIDE). Pengembangan MPIDE ini dikaji melalui disain penelitian tindakan atau action research (AR), dengan siklus pelaksanaan modifikasi Model Lewin dalam McNiff (1992), dilihat Gambar 1.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Siklus 1                                     Siklus 2

 

 

Gambar 1. Prosedur Penelitian Tindakan (modifikasi Model Lewin)

 

Gambar 1, menujukan dalam setiap siklus terdiri atas empat tahap, yaitu: planning, acting, observing, dan reflecting (McNiff, 1992). Dalam uji, tahap-tahap Siklus yang dilaksanakan meliputi:

Tahap Perencanaan (planning): merancang MPIDE dan penuangannya dalam kegiatan perkuliahan di satuan acara perkuliahan (SAP) perkuliahan mata kuliah tertentu.

Tahap Melaksanakan Perencanaan (acting): Mengimplementasikan SAP tersebut dalam perkuliahan tertentu tersebut.

Tahap observasi: pada tahap ini pengambilan data dilakukan, yaitu dengan melakukan pengamatan dan pencatatan aktivitas mahasiswa ketika mengikuti perkuliahan dengan SAP tersebut dan pengambilan nilai tes mereka dalam perkuliahan pada masing-masing kegiatan (instruction, doing, dan evaluating).

Tahap refleksi (reflecting): pada tahap ini dilakukan perenungan tentang hasil analisis data aktifitas dan nilai perkuliahan untuk masing-masing kegiatan (instruction, doing, dan evaluating) untuk mempelajari kekurangan yang terjadi dan merencanakan solusi yang perlu dilakukan untuk penyempurnaan MPIDE. Berikutnya masuk ke siklus 2, yang diawali dengan penyusunan SAP dengan MPIDE yang telah mengalami perbaikan, dan selanjutnya seperti tahap pada siklus 1. Selanjutnya dilakukan seperti siklus di atas untuk memperoleh MPIDE yang terbaik selama perkuliahan berlangsung.

 

3.2 Subyek Uji

Subyek untuk uji MPIDE adalah pelaksanaan 1 (satu) kelas perkuliahan ”pengembangan media pembelajaran fisika” mahasiswa FKIP Universitas Jember, dengan respoden 37 mahasiswa.

 

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah teknik observasi. Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah catatan lapangan (field notes)  tentang aktifitas dan nilai ketika tahap instruction, doing, dan evaluating terjadi dalam kegiatan perkuliahan. Catatan lapangan digunakan untuk mencatat hal-hal yang penting dalam kegiatan aksi. Data nilai diambil dari skor penilain yang tercatat, yang dihasilkan dari skor membandingkan antara aktifitas patokan yang diharapkan harus terjadi atau dilakukan oleh mahasiswa ketika mengikuti setiap tahap kegiatan (instruction, doing, dan evaluating) dengan realita aktifitas yang dilakukan mahasiswa ketika pelaksanaan masing-masing kegiatan (instruction, doing, dan evaluating). Data kemampuan presentasi dan kemampuan mewujudkan produk yang ditugaskan, dihasilkan dari hasil olahan antara skor hasil pengamatan komponen yang dinilai dalam presentasi (kemampuan presentasi dan kemampuan mewujudkan tugas) dengan skor komponen tersebut yang diberikan oleh individu atau kelompok peserta didik yang tidak sedang presentasi. Data skor penguasan konsep materi perkuliahan dihasilkan melalui tes tulis tentang penguasan konsep materi secara koknitif.

 

3.4 Teknik Analisis Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian berupa hasil catatan lapangan tentang aktivitas dan nilai ketika tahap instruction, doing, dan evaluating terjadi dalam perkuliahan, data olahan antara skor yang diberikan oleh observer tentang komponen yang dinilai dalam presentasi (meliputi: kemampuan presentasi dan kemampuan mewujudkan tugas) dengan skor komponen tersebut yang diberikan oleh individu atau kelompok mahasiswa yang tidak sedang presentasi. dan data skor hasil tes tertulis penguasan konsep secara kognitif.

Data tentang catatan lapangan, penilaian aktivitas ketika mengikuti kegiatan (instruction, doing, dan evaluating), data kemampuan presentasi, dan mewujudkan tugas selanjutnya dianalisis secara deskriptif. Hasil analisis data ini selanjutnya digunakan sebagai bahan refleksi implementasi MPIDE yang diuji yang selanjutnya untuk perbaikan MPIDE uji tersebut. Begitu pula untuk siklus selanjutnya, hingga menemukan tahap-tahap MPIDE yang diperkirakan paling baik.

 

  1. HASIL KAJIAN

Berdasarkan rumusan masalah yang perlu dicarikan jawabnya. Berdasarkan uji-coba MPIDE dan penyempurnaannya, diperoleh hasil jawaban rumusan masalah, bahwa MPIDE yang baik dalam kajian ini secara deskripsi menunjukkan bahwa, Model pembelajaran Instruction, Doing, dan Evaluating (MPIDE) adalah model pembelajaran dengan:

Sintaktik: tahap-tahap pembelajaran untuk pelaksanaan KBM telah terwujud. Berkaitan dengan kajian ini adalah sebagai berikut: terdiri atas 3 (tiga) kelompok tahap pembelajaran, yaitu kelompok tahap Instruction; Doing; dan Evaluating:

  • kelompok tahap Instruction terdiri atas 2 tahap, yaitu tahap: (1) pengamatan, dalam bentuk penelaahan materi/teori/bahan perkuliahan dan (2) bertanya dan menjawab diri tentang apa yang ditetapkan untuk dikembangkan menjadi diproduk sesuai target.
  • Kelompok tahap Doing, terdiri atas tahap: (3) mencoba mengkonstruk/merancang produk yang telah ditetapkan untuk dipilih menjadi produk target; (4) memproduk (mewujudkan) rancangan; dan (5) mengemas produk dalam perencanan KBM (melalui intepretasi ketepatan produk dalam tahap KBM yang sesungguhnya).
  • Kelompok tahap Evaluating, terdiri atas tahap: (6) mensosialisasikan produk dalam bentuk presentasi produk dalam demonstrasi KBM dan (7) memberikan penilaian tentang produk yang di hasilkan dalam pelaksanaan demomstrasi KBM (dilakukan oleh siswa/mahasiswa yang lain).

Sistem social: Situasi atau suasana dan norma yang berlaku dalam model. Berkaitan dengan kajian ini adalah sebagai berikut: semua peserta kuliah (mahasiswa) uji rata-rata memiliki potensi sama, motivasi sama, memiliki tanggung jawab sama, sudah saling kenal, dapat saling diskusi dan kerja sama, memiliki kemampuan presentasi dan demonstrasi alat sama, lingkungan kondosif untuk belajar dan bekerja.

Prinsip reaksi: Pola kegiatan yang menggambarkan bagaimana seharusnya guru/dosen melihat dan memperlakukan para mahasiswa, termasuk cara guru/dosen memberikan respon terhadap mahasiswa telah terjadi. Berkaitan dengan kajian ini adalah sebagai berikut: interaksi akademik antara mahasiswa dengan dosen kondosif; informasi, instruksi, dan tugas dari dosen kepada mahasiswa dapat terima dengan jelas dan berjalan dengan baik; dosen memberikan kepercayan penuh kepada mahasiswa dalam menelaah teori dan melaksanakan tugas dari dosen; dosen mudah memonitori dan melakukan bimbingan pada mahasiswa; dosen melaksanakan apresiasi secara individu/kelompok (bagi mereka yang melaksanakan proses dan menghasikan produk baik) maupun secara keseluruhan (bila diskusi kelas berjalan baik), pelaksanan dan hasil evaluasi KBM antar kelompok mahasiswa maupun dari dosen berjalan dan berhasil baik.

Sistem pendukung: Segala sarana, bahan dan alat yang diperlukan untuk melaksanakan model.  Berkaitan dengan kajian ini adalah sebagai berikut: dibutuhkan sarana pendukung perkuliahan tatap muka yang proporsional; dibutuhkan sarana workshop untuk melaksanakan perancangan dan pembuatan produk target; dan dibutuhkan tempat dan sarana untuk mendukung praktek demo hasil produk.

Dampak instruksional: Hasil belajar yang dicapai langsung dengan cara mengarahkan para mahasiswa pada tujuan pembelajaran/perkuliahan yang diharapkan/dirumuskan. Berkaitan dengan kajian ini adalah sebagai berikut: dapat mewujudkan tujuan pembelajaran/perkuliahan yang dirumuskan (dalam hal ini: penguasan konsep perkuliahan meningkat tinggi; mahasiswa rata-rata mampu menghasilkan produk yang ditargetkan; dan mahasiswa rata-rata mampu mendemokan produk yang dihasilkannya).

Dampak pengiring: Hasil belajar lainnya yang dihasilkan dari suatu proses belajar mengajar, sebagai akibat terciptanya suasana belajar yang dialami langsung oleh para mahasiswa tanpa pengarahan langsung dari dosen. Berkaitan dengan kajian ini adalah sebagai berikut: rata-rata  kemampuan menangkap dan melaksanakan informasi, instruk, tugas mahasiswa rata-rata menjadi baik; munculnya kemampuan kerja sama antar mahasiswa; rata-rata mahasiswa dapat obyektif melakukan penilaian, kritik, kontrol, dan memberikan perbaikan pada antar teman; rata-rata mahasiswa mengenal dan dapat menggunakan peralatan workshop.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim. (1995). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Kedua. Jakarta: Balai Pustaka

Carter. K. (1990). Teachers’ knowledge and learning to teach. Houston, R. (ed.). Handbook of Research on Teacher Education. New York: Macmillan

Depdikbud. (1996). Mengajar di Perguruan Tinggi. Bagian Satu. Program Applied  Approach. Jakarta: Depdikbud.

———-. (1996). Mengajar di Perguruan Tinggi. Bagian Dua. Program Applied  Approach. Jakarta: Depdikbud.

Echols, J. M., Shadily, H. (2005). Kamus Inggris Indonesia (An English-Indonesian Dictionary). Jakarta: PT Gramedia.

Hornby, AS. (1987). Oxford Advanced Dictionary of Current English. London: Oxford University Press.

Indrawati. (2005). Implementasi Model Observasi dan Simulasi (OBSIM) untuk Meningkatkan Kemampuan Mengajar Awal Mahasiswa Pendidikan Guru Fisika Sekolah Menengah (Disertasi, tidak diterbitkan). Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Joyce, B., Weil, M., dan Calhoun, E. (2000). Model of Teaching, Sixth Edition. Boston: Allyn and Bacon.

Kemendikbud. (2013). Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: Kemendikbud.

McNiff, J. (1992). Action Research: Principle and Practice. London: Macmillan Education Ltd.

Meltzer, D. E. (2002). The relationship between Mathematics preparation and conceptual learning gain in Physics: A possible hidden variable in diagnostic pretest scores. American Journal Physics. 70 (2), 1259-1267.

National Research Council (NRC). (1996). National Science Education Standards. Washington, DC: National Academy Press.

Shulman, L. S.. (1991). Ways of seeing, ways of knowing: ways of teaching, ways of learning about teaching. Journal of Curriculum Studies, 23(5), 393-395.

Sund, R. B. & Trowbridge, L. W. (1973). Teaching Science by Inquiry in the Scondary School, Scond Edition. Ohio Charles E. Merrill Publishing Company A Bell & Howell Company.

Sutarto & Indrawati. (2013). Strategi Belajar Mengajar Sains. Jember: Jember University Press.

Trowbridge, L. W., & Bybee, R. W. (1990). Becoming a Secondary School Science Teacher, Fifth edition. Columbus: Merrill Publishing Company, A Bell & Howell Company.

 

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *